Skip to main content

(XXXVII. AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL)


AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL 
Oleh : Rahman Saputra Tamba

I. Pendahuluan 
            “Masyarakat lahir dan berkembang dari gabungan beberapa individu yang pada akhirnya membentuk suatu kelompok demi kepentingan dan tujuan bersama”. Sama halnya dengan agama yang  memiliki konsep serta tujuan yang dengan masyarakat. Terlebih lagi diantara keduanya, memiliki pengaruh timbal baik yang sama. Namun didalam perkembangannya, konsep tersebut berangsur-angsur berubah dimana baik Masyarakat maupun Agama cenderung membentuk kelas-kelas  atau pengelompokan yang bersifat berbeda satu sama lain. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengetahui latar belakang kelas-kelas (stratifikasi) didalam kehidupan sosial serta didalam kehidupan agama.

II. Isi    
            Agama pada dasarnya sering dikaitkan dengan pengalaman (empiris) dari masyarakat. Agama lebih sering dipandang sebagai wadah lahiriah atau sebagai instansi yang mengatur pernyataan iman didalam masyarakat. Sama halnya dengan masyarakat, agama juga memiliki stratifikasi sosial di beberapa lingkup bagian yang akhirnya membedakan satu sama lain. Dimana stratifikasi sosial merupakan susunan berbagai kedudukan sosial menurut tinggi rendahnya dalam masyarakat. Dimana pada akhirnya masyarakat dibedakan bedasarkan tipe-tipe sosial (stratifikasi sosial) serta golongan-golongan sosial yakni sebagai berikut :

     a. Tipe masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sacral 
Tipe ini merupakan tipe masyarakat yang tumbuh dari keterbelakangan, keterisolasian. Dimana masyarakat cenderung terpengaruh dan berpendapat bahwa agama merupakan pengaruh dari pada sakral itu sendiri. Hal ini terjadi karena adanya perubahan pemikiran, tradisi didalam proses sosial.

     b. Tipe masyarakat Pra Industri yang sedang berkembang 
Tipe ini merupakan tipe masyarakat yang dapat berubah dengan cepat, tidak  begitu terisolasi, dan mencakup jangkauan yang luas. Yang mana tipe ini lebih cenderung menimbulkan ketegangan antara sistem nilai keagamaan dengan  masyarakat secara keseluruhan.

     c. Tipe masyarakat Industri-Sekuler. 
Tipe ini sangat lah dinamaik dan unik. Dimana masyarakt moderen yang kompleks akhirya terpecah-pecah dan akhirnya bersifat majemuk akibat dari pengaruh teknologi yang berkembang. 
            Selain itu, stratifikasi sosial yang ada didalam masyarakat juga dapat digolongkan berdasarkan golongan kehidupan yakni sebagai berikut ;

     a. Golongan pedagang besar 
Golongan ini cenderung memiliki mental yang berbeda dari pada yang lainnya terhadap agama. Dimana semakin semakin besar kemewahan mereka, semakin kecil hasrat mereka terhadap agama yang mengarah kepada dunia lain.

     b.Golongan karyawan 
Weber menyebutkan kelas ini dengan istilah “ Kaum Birokrat “ Dimana semua pegawai negeri sipil dan pegawal lain dibedakan berdasarkan tingkatan kerja.
     c. Golongan kaum buruh 
Karl Marx menggolongkan kelompok ini kedalam kaum ploretariat. Yang mana kelas ini tidak diikutsertakan dalam kehidupan masyarakat, disingkirkan dari sistem sosial yang berlaku.

III. Kesimpulan 
                        Didalam kehidupan baik agama maupun sosial, pastilah memiliki perbedaan. Yang mana perbedaan tersebut tidak dapat dihilangkan dan akan selalu berkembang secara intensif. Oleh karena itu, melalui perbedaan-perbedaan yang ada, cepat atau lambat pastilah akan menimbulkan tingkatan ataupun golongan didalam tatanan kehidupan sosial. Oleh karena itu pada akhirnya stratifikasi baik dalam agama maupun sosial nantinya akan menimbulkan pengaruh yang baik dan yang buruh didalam tatanan kehidupan. Akan tetapi apabila agama mampu ambil bagian lebih besar didalam tatanan kehidupan kemungkinan stratifikasi yang ada nantinya akan berangsur-angsur berkurang dari dalam tatanan kehidupan.






Comments

Popular posts from this blog

(LX. SAKRAMEN BAPTISAN DI HKBP)

SAKRAMEN BAPTISAN DI HKBP  I. Pendahuluan             Baptisan merupakan salah satu sakramen yang diperintahkan oleh Yesus sendiri dalam Amanat AgungNya. Oleh karena itu gereja melayankan baptisan sebagai salah satu sakramen bagi orang percaya.             Kata “baptis” berasal dari Bahasa Yunani, “baptizo” yang artinya: mencelupkan ke dalam air ataupun memasukkan ke dalam air. Pemandian ke dalam air baru menjadi “baptisan” apabila dilaksanakan dengan upacara seremonial yang khusus. [1] Baptisan yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, yaitu baptisan yang berlaku di tengah-tengah gereja, bukan hanya menunjuk pada Kerajaan Allah yang masih akan datang, melainkan menjadi bukti dan mengukuhkan perwujudan atas kedatangan Kristus ke dunia. [2] HKBP sebagai salah satu gereja Tuhan di Indonesia mengakui dan melayankan Baptisan Kudus sebagai salah satu sakramen di samp...

(LXXV. MENGENAL PDT. DR. ROBINSON RAJAGUKGUK, MST, M.Th DAN PEMIKIRAN TEOLOGISNYA)

MENGENAL PDT. DR. ROBINSON RAJAGUKGUK, MST, M.Th DAN PEMIKIRAN TEOLOGISNYA [1] 1. Biografi. Pdt. DR. Robinson Rajagukguk, MST, ThM. Lahir di Sarulla, 8 Agustus 1946. Menikah dengan Erlina br Siregar dan dikarunia satu anak perempuan dan satu laki-laki.   Beliau memperoleh   Sarjana Theologia tahun 1968 dari Fakultas Theologi Universitas HKBP Nomensen, Pematangsiantar. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikannya dan memperoleh   Master of Sacred Theology (MST) tahun 1973, dari Corcodia Seminary , St. Louis , USA . Belau juga sekolah kembali dan memperoleh gelar Master of Theology (MTh) tahun 1988, di Lutheran Scool of Theology at Chicago , USA . Tidak puas hanya di sana , beliau melanjutkan pendidikannya dan berhasil meraih gelar Doctor of Theology (ThD) tahun 1991, di Lutheran School of Theology at Chicago , USA . Beliau mempunyai banyak pengalaman di HKBP maupuan di luar HKBP, diantaranya adalah sebagai berikut: Tahun 1968, menjadi Pendeta Pr...

(XXXI. TAFSIRAN HISTORIS KRITIS MAZMUR 23:1-6)

Tinjauan Historis Kitab Mazmur 23:1-6 Oleh " Rahman Saputra Tamba " BAB I Pendahuluan             Nama kitab ini dalam LXX adalah Psalmoi [1] . Alkitab bahasa latin memakai nama yang sama. Kata Yunani (dari kata kerja psallo yang artinya “memetik atau mendentingkan”). Mula-mula digunakan untuk permainan alat musik petik atau untuk alat musik itu. Kemudian kata ini menunjukkan nyanyian ( psalmos ) atau kumpulan nyanyian ( psalterion) . [2] Dalam bahasa Ibrani ada kata mizmor yang artinya “sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan musik”, namun judul Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah [3] tehillim yang artinya “puji-pujian atau nyanyian pujian”.             Dalam Alkitab Ibrani, Kitab Mazmur terdapat pada awal bagian Kitab-kitab. Para nabi menempatkan sebelum Kitab Amsal dan tulisan hikmat lainnya, dengan alasan bahwa kumpulan tulisan Da...