Skip to main content

(XXXVIII. PANDANGAN SOSIOLOGIS TERHADAP AGAMA)


PANDANGAN SOSIOLOGIS TERHADAP AGAMA
Oleh : Rahman Saputra Tamba

I. Pendahuluan 
Pada dasarnya agama ialah suatu kategori sosial. Yang di dukung oleh kelompok manusia, suku maupun bangsa yang mempunyai warna serta kebudayaan yang berbeda-beda.  Hal ini disebabkan karena agama lahir serta berkembang berdasarkan geografis wilayah tertentu. Oleh karena itu, dimensi empiris yang ada pada sebuah agama tidak dapat dipisahkan dari aspek sosiologis agama itu sendiri.
Disisi lain, agama juga sering diartikan secara luas dan universal. Dimana agama dituntut mampu mengembangkan kelangsungan hidup (keadaan manusia) serta mampu memelihara tiap-tiap individu yang ada didalam masyarakat. Yang menjadi point terpenting ialah dimana agama pada akhirnya mampu bersanding dan menyesuaikan diri didalam kehidupan sosial.

II. Isi
Agama merupakan bagian dasar dari kebudayaan manusia. Dimana agama mampu merangkum secara kompleks oleh para pemeluknya baik secara pribadi maupun kelompok. Selain itu, agama pada hakekatnya merupakan sebuah institusi yang tersusun secara relatif atas pola-pola yang mengikat individu guna mencapai kebutuhan dasar sosial. Yang pada akhirnya akan membentuk organisasi guna terciptanya peraturan-peraturan di dalam agama itu sendiri.
Dalam pandangan sosiologis, agama sering dikaitkan dengan keadaan manusia. Munculnya pemikiran tentang agama merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pandangan terhadap apa yang suci (Sakral) menurut para pemeluknya. Di sinilah keberadaan agama perlu dibuktikan terhadap keyakinan baru seputar hal-hal gaib / sakral. Dimana berdasarkan pandangan Ilmu sosiologi, hal ini merupakan suatu keyakinan terhadap penalaran manusia untuk memahami dan menguasai alam semesta. 
Selain itu, nilai-nilai moral yang terkandung didalam agama juga berkaitan erat serta memiliki hubungan kesakralan sendiri di dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral inilah yang terus berkembang hingga saat ini, yang pada akhirnya melahirkan kebiasaan / pemikiran untuk setiap pemeluknya.

IV. Refleksi
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak keyakinan. Sebagaimana diatur didalam UUD 1945, setiap warga negara berhak mendapatkan kebebasan dalam menentukan agama yang akan dianutnya. Ketentuan hukum tersebut diatur agar setiap warga negara mampu saling menjaga keharmonisan diantara sesama umat beragama. 
Tidak hanya berdasarkan konteks UUD 1945, hukum keharmonisan antara umat beragama  juga tertuang didalam setiap ajaran / doktin yang ada pada masing-masing ajaran agama tersebut. Misalnya seperti didalam konteks gereja. Gereja juga mengharuskan kepada setiap pengikutnya untuk saling menghormati satu sama lain baik didalam hal peribadatan, kepercayaan, serta didalam kehidupan sosial sehari-hari. 

IV. Kesimpulan 
            Agama pada dasarnya merupakan bagian dari pada kehidupan manusia. Agama tumbuh dan berkembang dari dalam keadaan serta kebudayaan yang ada manusia itu sendiri. Dimana didalam agama, terdapat nilai-nilai moral serta kepercayaan baik yang bersifat sakral maupun gaib yang pada akhirnya kepercayaan tersebut akan menjadi suatu pegangan pada setiap pemeluknya.  

Comments

Popular posts from this blog

(LX. SAKRAMEN BAPTISAN DI HKBP)

SAKRAMEN BAPTISAN DI HKBP  I. Pendahuluan             Baptisan merupakan salah satu sakramen yang diperintahkan oleh Yesus sendiri dalam Amanat AgungNya. Oleh karena itu gereja melayankan baptisan sebagai salah satu sakramen bagi orang percaya.             Kata “baptis” berasal dari Bahasa Yunani, “baptizo” yang artinya: mencelupkan ke dalam air ataupun memasukkan ke dalam air. Pemandian ke dalam air baru menjadi “baptisan” apabila dilaksanakan dengan upacara seremonial yang khusus. [1] Baptisan yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, yaitu baptisan yang berlaku di tengah-tengah gereja, bukan hanya menunjuk pada Kerajaan Allah yang masih akan datang, melainkan menjadi bukti dan mengukuhkan perwujudan atas kedatangan Kristus ke dunia. [2] HKBP sebagai salah satu gereja Tuhan di Indonesia mengakui dan melayankan Baptisan Kudus sebagai salah satu sakramen di samp...

(LXXV. MENGENAL PDT. DR. ROBINSON RAJAGUKGUK, MST, M.Th DAN PEMIKIRAN TEOLOGISNYA)

MENGENAL PDT. DR. ROBINSON RAJAGUKGUK, MST, M.Th DAN PEMIKIRAN TEOLOGISNYA [1] 1. Biografi. Pdt. DR. Robinson Rajagukguk, MST, ThM. Lahir di Sarulla, 8 Agustus 1946. Menikah dengan Erlina br Siregar dan dikarunia satu anak perempuan dan satu laki-laki.   Beliau memperoleh   Sarjana Theologia tahun 1968 dari Fakultas Theologi Universitas HKBP Nomensen, Pematangsiantar. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikannya dan memperoleh   Master of Sacred Theology (MST) tahun 1973, dari Corcodia Seminary , St. Louis , USA . Belau juga sekolah kembali dan memperoleh gelar Master of Theology (MTh) tahun 1988, di Lutheran Scool of Theology at Chicago , USA . Tidak puas hanya di sana , beliau melanjutkan pendidikannya dan berhasil meraih gelar Doctor of Theology (ThD) tahun 1991, di Lutheran School of Theology at Chicago , USA . Beliau mempunyai banyak pengalaman di HKBP maupuan di luar HKBP, diantaranya adalah sebagai berikut: Tahun 1968, menjadi Pendeta Pr...

(LXXX. MENGENAL DS. DR. TUNGGUL SUMUNTUL SIHOMBING & PEMIKIRAN TEOLOGISNYA)

MENGENAL DS. DR. TUNGGUL SUMUNTUL SIHOMBING & PEMIKIRAN TEOLOGISNYA Biografi Pendeta Dr. Tunggul Sumuntul Sihombing lahir, lahir tanggal 8 November 1915 di desa banuahulu, Butar, Siborongborong, Tapanuli Utara, kampung asal kakek-moyangnya. [1] T.S. Sihombing meninggal dunia di jakarta   tanggal 2 Mei 1988 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta . Ayahnya bernama Alexander Sihombing dan ibunya Kristina boru Silitonga berasal dari kampung Lumbansoit Sipoholon. Istri bernama Sinta Omas boru Panjaitan.   Sumber keluarga mengatakan bahwa anak pertama dan kedua keluarga Alexander meninggal dunia ketika masih bayi. Sehingga ketika Tunggul Sihombing dilahirkan ia dititipkan secara simbolik menjadi anak satu kelurga kerabat yang tidak pernah kematian anak bayi yaitu keluarga Guru Jonathan Nababan. I. Masa pendidikan dasar dan lanjutan pertama.             Pada tahun 1922 Tunggul berumur enam setengah t...